Kesehatan

6 Kebiasaan Sehari-Hari yang Meningkatkan Risiko Kanker dan Tumor Otak

6 Kebiasaan Sehari-Hari yang Meningkatkan Risiko Kanker dan Tumor Otak
6 Kebiasaan Sehari-Hari yang Meningkatkan Risiko Kanker dan Tumor Otak

Harianesia – 20 Juni 2026 | Kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, lingkungan, hingga gaya hidup. Memang ada risiko yang tidak bisa dikendalikan, namun sejumlah kebiasaan sehari-hari tanpa disadari dapat meningkatkan peluang terkena kanker dalam jangka panjang.

Beberapa kebiasaan tersebut sering terlihat sepele, padahal jika dilakukan terus-menerus bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Dengan mengetahui hal ini, kamu bisa lebih bijak dalam menjaga pola hidup demi kesehatan jangka panjang.

Apa Saja Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Kanker?

Menurut berbagai sumber, berikut enam kebiasaan yang diam-diam dapat meningkatkan risiko kanker:

  • Duduk dalam waktu lama dan kurangnya olahraga
  • Kurang tidur atau tidur yang tidak teratur
  • Terlalu fokus makan sehat
  • Mengonsumsi makanan yang tidak sehat
  • Kurangnya kesadaran akan gejala neurologis
  • Tidak memperhatikan kesehatan otak

Duduk dalam waktu lama dan kurangnya olahraga tidak hanya dapat menyebabkan obesitas, tetapi juga peradangan ringan dan perubahan profil hormonal. Hal ini pada gilirannya menciptakan lingkungan biologis yang mendukung inisiasi dan perkembangan kanker.

Kurang tidur atau tidur yang tidak teratur merupakan salah satu penyebab penurunan produksi melatonin. Melatonin adalah hormon dengan efek antikanker dan perlindungan.

Tumor Otak: Apa yang Perlu Kamu Ketahui?

Tumor otak masih menjadi salah satu penyakit yang kerap menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan tumor otak dengan kanker ganas dan kondisi yang sulit disembuhkan.

Padahal, sebagian besar kasus tumor otak primer justru bersifat jinak dan dapat ditangani dengan baik apabila terdeteksi sejak dini. Melihat hal ini, Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet mengungkapkan bahwa tumor otak terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder atau metastasis yang muncul akibat penyebaran kanker dari organ lain seperti paru-paru, payudara, maupun tiroid.

Berdasarkan data internasional, sekitar 72 persen tumor otak primer tergolong jinak, sementara sisanya sekitar 28 persen bersifat ganas. “Saat ini banyak masyarakat menganggap semua tumor otak pasti ganas. Faktanya, sebagian besar tumor otak primer bersifat jinak. Namun, baik tumor jinak maupun ganas tetap dapat berbahaya karena berada di dalam rongga kepala yang terbatas sehingga dapat menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi vital,” kata dr. Evodia.

Kesimpulan

Jadi, kamu harus lebih waspada dan bijak dalam menjaga pola hidup sehari-hari untuk mengurangi risiko kanker dan tumor otak. Dengan mengetahui kebiasaan yang meningkatkan risiko kanker dan memahami tentang tumor otak, kamu bisa lebih siap dalam menjaga kesehatan dan menghadapi masalah jika itu terjadi.

FAQ

Apa itu kanker?
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, lingkungan, hingga gaya hidup.

Apa saja kebiasaan yang meningkatkan risiko kanker?
Beberapa kebiasaan yang meningkatkan risiko kanker antara lain duduk dalam waktu lama, kurang tidur, terlalu fokus makan sehat, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, kurangnya kesadaran akan gejala neurologis, dan tidak memperhatikan kesehatan otak.

Apa itu tumor otak?
Tumor otak adalah penyakit yang terjadi ketika terdapat pertumbuhan abnormal sel di otak.

Apa saja jenis tumor otak?
Tumor otak terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder atau metastasis yang muncul akibat penyebaran kanker dari organ lain.

Bagaimana cara mencegah kanker dan tumor otak?
Cara mencegah kanker dan tumor otak antara lain dengan menjaga pola hidup sehat, mengonsumsi makanan yang sehat, berolahraga secara teratur, dan memperhatikan kesehatan otak.

Baca juga:
Baca juga:
Baca juga:
Exit mobile version