Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
TNI-POLRI

TPNPB klaim bertanggung jawab terhadap penembakan pesawat di Korowai

×

TPNPB klaim bertanggung jawab terhadap penembakan pesawat di Korowai

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta,-Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyatakan bertanggung jawab atas aksi penembakan dan mengeklaim merampas sejumlah senjata di area Mile 50, jalur tambang PT Freeport Indonesia (PTFI), Mimika, Papua Tengah, pada Rabu (11/2/2026). Insiden tersebut menewaskan satu anggota aparat keamanan.

Juru bicara markas pusat TPNPB, Sebby Sambom, dalam rilis pers resminya menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pasukan di bawah komando wilayah setempat. Ia menegaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari operasi militer mereka untuk mengganggu aktivitas ekonomi yang dianggap mengeksploitasi kekayaan alam Papua.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Selain jatuhnya korban jiwa dan luka di pihak militer, TPNPB menyatakan telah merampas dua unit senjata api jenis laras panjang SS2. TPNPB juga mengeklaim berhasil mengambil dua unit magazin beserta 50 butir amunisi yang kini dinyatakan telah menjadi bagian dari aset persenjataan mereka.

Melalui rilis pers kepada media pada Rabu malam yang dikeluarkan oleh Juru Bicara Sebby Sambom, TPNPB menyampaikan tuntutan politik yang ditujukan kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Pemerintah Amerika Serikat agar segera menutup operasional PT Freeport Indonesia. Kehadiran perusahaan tambang tersebut dinilai berdiri di atas tanah leluhur bangsa Papua tanpa kesepakatan yang adil bagi masyarakat adat.

Baca Juga :  Kapolres Nganjuk Puji Karya Bakti Polsek Rejoso dan Warga Bersihkan Sungai di Mojorembun

Pihak TPNPB juga memberikan peringatan bahwa rangkaian serangan dan kontak tembak akan terus berlanjut di areal PT Freeport Indonesia jika tuntutan tersebut diabaikan. Mereka mendesak agar Amerika Serikat, Indonesia, dan Belanda duduk bersama untuk menyelesaikan akar persoalan konflik di Tanah Papua yang telah berlangsung selama lebih dari 63 tahun.

Lebih lanjut, manajemen TPNPB menyoroti sejarah pengelolaan emas di Papua yang dimulai sejak tahun 1967. Mereka menilai kerja sama antara Amerika dan Indonesia kala itu dilakukan secara sepihak, bahkan sebelum pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Penyerahan administrasi dari Belanda ke Indonesia di masa lalu dianggap terjadi karena tekanan kepentingan sumber daya alam yang berdampak pada jatuhnya banyak korban jiwa sipil dan kerusakan ekosistem.

Baca Juga :  Polsek Jatiroto Amankan Pasaran Legi di Terminal Non Bus, Arus Lalu Lintas Lancar
Aparat keamanan pengawal iring-iringan kendaraan
operasional PT Freeport Indonesia yang bersiaga di di
sepanjang jalan menuju Tembagapura, tepatnya di
Mile 50.

Secara khusus, TPNPB meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meninjau kembali sejarah panjang konflik di Papua. Mereka menegaskan bahwa PT Freeport Indonesia merupakan akar utama dari sengketa bersenjata yang saat ini terjadi.

Freeport benarkan terjadi penembakan di Mile 50
TPNPB klaim tembak empat BIN yang menyamar sebagai guru di Yahukimo
Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB yang dipimpin oleh Jenderal Goliath Tabuni bersama sejumlah petinggi lainnya memperingatkan bahwa intensitas pertempuran akan terus meningkat di seluruh wilayah Tanah Papua. Eskalasi ini disebut tidak akan mereda selama Pemerintah Indonesia tidak membuka ruang dialog masalah politik secara terbuka dengan bangsa Papua.

Menanggapi klaim tersebut, manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) membenarkan adanya insiden maut di wilayah kerjanya. VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Katri Krisnati menyatakan bahwa perusahaan telah menerima laporan mengenai gangguan keamanan yang melibatkan penembakan terhadap aparat di titik Mile 50.

“Kami menerima laporan dari aparat keamanan pemerintah terkait insiden penembakan yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026 sekitar pukul 15.00 WIT di Mile Post 50, jalan utama menuju Tembagapura. Akses jalan utama menuju Tembagapura untuk sementara masih ditutup,” kata Katri dalam rilis resmi yang diterima Jubi pada Rabu malam.

Baca Juga :  Komnas Disabilitas Beri Penghargaan Polri terkait Rekrutmen Penyandang Disabilitas

Katri menyatakan bahwa prioritas utama kami adalah memastikan keselamatan dan keamanan seluruh karyawan dan semua pihak di wilayah kerja PT Freeport Indonesia. “Kami terus berkoordinasi dengan aparat keamanan pemerintah terkait hal ini,” ujarnya.

Terkait dua pucuk senjata api yang dilaporkan dirampas, Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Tri Purwanto belum memastikan hal tersebut, lantaran saat ini TNI-Polri tengah fokus melaksanakan pengamanan terhadap para pekerja.

“Saat ini info tersebut [soal senjata dirampas belum dapat dipastikan-red], personel TNI dan Polri fokus pada pelaksanaan pengamanan para pekerja di areal lokasi,” kata Kapendam yang dikonfirmasi dari Mimika, Rabu malam menukil laporan media lokal di Timika, Seputar Papua. (DWI)

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600