Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Politik

Prof.Connie Rahakundini di acara Peringatan MALARI 1974: Demokrasi Butuh Keberanian, Dan Pembangunan Harus Berpihak Pada Kedaulatan, Keadilan, dan Martabat

×

Prof.Connie Rahakundini di acara Peringatan MALARI 1974: Demokrasi Butuh Keberanian, Dan Pembangunan Harus Berpihak Pada Kedaulatan, Keadilan, dan Martabat

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta,-Pengamat Militer dan Pertahanan Prof.Connie Rahakundini Bakrie menghadiri acara peringatan 52 tahun peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974, serta HUT ke-26 Indemo yang digelar di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, pada Kamis (15/1/2026).

Peringatan tersebut dihadiri juga para oleh aktivis era reformasi, salah satunya Hariman Siregar, serta aktivis-aktivis lain yang tergabung dalam Indemo.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Hariman selaku aktivis senior, menyebutkan, peringatan Malari menjadi ruang penting untuk mempertemukan kegelisahan masyarakat sipil dan media, di tengah situasi demokrasi saat ini.
Mengingat, Indemo lahir dari refleksi pascareformasi 1998 ketika banyak aktivis dihadapkan pada pilihan antara masuk politik praktis atau tetap bergerak di jalur masyarakat sipil.

“Dan kami bekas-bekas aktivis atau masih aktivis tuh bertemulah dan kita bicara, mau apa kita setelah ini. Nah di situlah saya, pemikiran, kalau enggak semua orang mau masuk politik, sebagian besar ya pasti masuk politik. Jadi saya pikir di mana tempatnya orang-orang yang aktivis yang tidak berpolitik begitu,” kata Hariman.

Baca Juga :  Presiden Prabowo dijadwalkan Hadir pada Puncak Acara Nasional di GBK

Dalam kesempatan tersebut, Hariman juga menyoroti kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Di mana, ada kemiripan dengan periode awal 2000-an, ketika kebebasan dibuka lebar namun perlahan kembali menyempit
“Pemilu masih ada, partai masih banyak. Tapi apa yang terjadi? Tahun 98 kan mungkin oposisinya lemah, kritik juga sudah dianggap sebagai ancaman. Undang-undang dibentuk untuk digunakan, untuk digunakan untuk kekuasaan,” ujarnya.

Hariman mengatakan, demokrasi saat ini lebih banyak menjadi alat legitimasi elite politik. Sementara rakyat yang memiliki kedudukan tertinggi, justru kehilangan peran kontrol. “Jadi rakyat masih disuruh milih tapi tidak mengontrol. Demokrasi jadi alat legitimasi yang berkuasa,” ucapnya.

Baca Juga :  Fraksi PDIP DPRD Tangsel Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Warga

Dia lantas menegaskan solusi atas persoalan demokrasi, bukan terletak kepada figur pemimpin yang kuat. Akan tetapi, penting bagi negara penganut paham tersebut mempunyai institusi yang kokoh.

“Kita tidak bisa sekadar mengharapkan pemimpin yang kuat. Kita butuh negara yang kuat, negara yang institusinya kuat,” pungkas Hariman.

Pengamat Militer
dan Pertahanan Prof.Connie Rahakundini Bakrie
Memberikan apresiasinya dalam acara tersebut, Menurutnya
Peringatan Peristiwa Malari & Hariman Siregar Peristiwa Malari (15 Januari 1974) adalah tonggak sejarah perlawanan
mahasiswa terhadap otoritarianisme,
ketimpangan ekonomi, dan dominasi modal asing di Indonesia.

Baca Juga :  Ketua Badan Penghubung NTT" Donald Izaac, Kembali Terpilih sebagai Ketua FORKAPPSI Periode 2025 - 2029

Penulis Buku Negara Berkesadaran: Dari Mimpi Peradaban Menuju Kelahiran Bangsa Berkesadaran (From the Dream of Civilization to the Birth of a Conscious Nation) ini
juga menegaskan
“Aksi ini menjadi simbol keberanian intelektual generasi muda yang menuntut
kedaulatan nasional dan keadilan sosial”

Connie mengatakan “Hariman Siregar tampil sebagai figur sentral gerakan mahasiswa 1974–
bukan sebagai simbol kekerasan,
melainkan suara moral kampus yang berani mengkritik kekuasaan. la
mewakili tradisi mahasiswa sebagai nurani bangsa, yang berpikir kritis, bersuara jujur, dan siap menanggung
risiko demi kebenaran ungkap Connie.

Menurutnya
Malari mengingatkan kita bahwa demokrasi butuh keberanian, dan pembangunan harus berpihak pada kedaulatan, keadilan, dan martabat tutup Connie.**

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600