Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Pelayanan Tanpa Mimbar: Jurnalisme, Iman, dan Tanggung Jawab Merawat Kebhinnekaan

×

Pelayanan Tanpa Mimbar: Jurnalisme, Iman, dan Tanggung Jawab Merawat Kebhinnekaan

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta – Di tengah derasnya arus informasi digital, jurnalisme tidak lagi sekadar menyampaikan fakta. Ia menjelma menjadi arena pertarungan nilai antara kebenaran dan kepentingan, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara keberagaman dan intoleransi. Di ruang publik inilah wartawan bekerja, dan di sanalah wartawan Kristen menjalankan pelayanannya: tanpa mimbar, tanpa simbol, namun dengan dampak yang nyata.

Dalam kearifan Jawa dikenal ungkapan sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti—segala kekuasaan dan keangkuhan akan luluh oleh kebijaksanaan dan ketulusan. Nilai ini sejalan dengan pesan Kitab Suci, bahwa kejahatan tidak dilawan dengan kebencian, melainkan dengan kebaikan. Jurnalisme yang berintegritas tidak memperkeras konflik, tetapi menjernihkan ruang publik dengan kebenaran yang disampaikan secara beradab.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Indonesia berdiri di atas fondasi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menjamin kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, serta persatuan dalam keberagaman. Dalam kerangka konstitusional ini, pers memegang peran strategis sebagai pilar demokrasi—bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga kewarasan publik dan keutuhan sosial. Seperti pepatah Jawa rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, persatuan menguatkan bangsa, sementara perpecahan merapuhkannya.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD Depok Ajak Warga Sukseskan Pilkada 2024 dengan Damai

Sebagai alat pelayanan, jurnalisme menghadirkan kebenaran yang bertanggung jawab. Pelayanan ini tidak diukur dari identitas keagamaan yang ditonjolkan, melainkan dari integritas kerja: ketelitian memverifikasi fakta, keberanian menyampaikan realitas yang tidak populer, serta kepekaan terhadap martabat manusia. Di tengah maraknya isu intoleransi yang kerap diperkuat oleh judul sensasional dan potongan informasi tanpa konteks, pelayanan jurnalistik berarti memilih menjernihkan, bukan mengeruhkan. Dalam falsafah Jawa, inilah makna urip iku urup—hidup memberi terang bagi sesama.

Namun jurnalisme juga hidup dalam ruang bargaining. Negosiasi dalam praktik jurnalistik kerap tak terelakkan—baik untuk mengakses narasumber, menjaga stabilitas sosial, maupun mencegah eskalasi konflik berbasis identitas. Dalam batas etis, bargaining justru dapat menjadi instrumen untuk memperjuangkan kebenaran, menegakkan keadilan, dan menjaga kebhinnekaan. Prinsip alon-alon waton kelakon mengajarkan kehati-hatian agar tujuan tercapai tanpa merusak tatanan bersama. Negosiasi yang bermartabat bukanlah pengaburan fakta, melainkan strategi agar kebenaran tersampaikan tanpa melukai persatuan.

Baca Juga :  Aktivis Matahari dan KPKB Sindir Kegiatan Penghijauan di Megamendung: Jangan Hanya Hijau di Kamera, tapi Gersang di Hati Rakyat

Masalah muncul ketika bargaining kehilangan arah nilai dan berubah menjadi kompromi kepentingan. Ketika isu intoleransi dibiarkan demi kenyamanan relasi atau kepentingan sesaat, jurnalisme gagal menjalankan mandat kebangsaannya. Di titik inilah wartawan Kristen diuji—bukan hanya secara iman, tetapi juga sebagai warga negara. Dalam kearifan Jawa dikenal ungkapan ajining diri saka lathi—harga diri ditentukan oleh ucapan dan sikap. Negosiasi boleh dilakukan, tetapi kebenaran, keadilan, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh ditawar.

Di sisi lain, jurnalisme juga berjalan sebagai alat bisnis. Media membutuhkan keberlanjutan ekonomi untuk tetap hidup. Namun dalam ekosistem digital yang digerakkan algoritma, isu-isu berbasis identitas kerap diperlakukan sebagai komoditas pemicu emosi dan klik. Ketika logika pasar sepenuhnya mengendalikan ruang redaksi, media berisiko menjadi katalis polarisasi. Kearifan Jawa mengingatkan aja dumeh—jangan merasa berkuasa karena posisi atau keuntungan—sebab kepentingan umum dan persatuan nasional harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pasar.

Baca Juga :  Kini Milenial dan Pasangan Baru Bisa Punya Rumah Idaman, AMKI Jateng–BTN Buka Jalan Mudah!

Dalam realitas yang kompleks ini, pelayanan wartawan Kristen tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan ruang kolektif—tempat bertumbuh secara profesional, etis, dan kebangsaan. Oleh karena itu, Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna Indonesia) hadir sebagai wadah berkumpulnya wartawan-wartawan Kristen dari berbagai latar belakang media. Bukan sekadar organisasi profesi, Pewarna Indonesia menjadi ruang dialektika—tempat iman, jurnalisme, dan komitmen kebangsaan bertemu secara dewasa.

Pelayanan tanpa mimbar, pada akhirnya, adalah laku hidup. Dalam semangat memayu hayuning bawana—merawat harmoni kehidupan—wartawan Kristen dipanggil untuk menghadirkan jurnalisme yang menegakkan keadilan, merawat toleransi antariman, dan menjaga persatuan Indonesia. Di tengah iklim media yang mudah terpolarisasi, pilihan ini bukan sekadar sikap profesional, melainkan tanggung jawab kebangsaan.

Penulis Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Penulis adalah jurnalis senior Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna Indonesia) dan Pemimpin Redaksi Pelitanusantara.com. Ia juga rohaniawan Sinode GPIAI Filadelfia serta aktivis Reformasi 1998 yang konsisten mendorong jurnalisme berintegritas, toleransi antariman, dan persatuan kebangsaan.

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600