Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Politik

GMNI Mimika Soroti Skandal Rp992 Triliun Emas Ilegal dan Konflik Tapal Batas: “Negara Jangan Absen!

×

GMNI Mimika Soroti Skandal Rp992 Triliun Emas Ilegal dan Konflik Tapal Batas: “Negara Jangan Absen!

Sebarkan artikel ini
*GMNI Mimika Soroti Skandal Rp992 Triliun Emas Ilegal dan Konflik Tapal Batas: "Negara Jangan Absen!"*
*GMNI Mimika Soroti Skandal Rp992 Triliun Emas Ilegal dan Konflik Tapal Batas: "Negara Jangan Absen!"*
Banner Iklan Harianesia 468x60

TIMIKA, 13 Februari 2026 – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mimika mengeluarkan pernyataan sikap keras terkait dua isu krusial yang sedang menghantam Papua Tengah: konflik berdarah tapal batas Mimika-Deiyai dan temuan perputaran uang haram tambang emas ilegal senilai Rp992 triliun yang di duga berasal dari Sumatra dan Papua.

Markus Maita Selaku Ketua Bidang Otonomi Khusus Papua GMNI Mimika menegaskan bahwa situasi hari ini adalah “alarm keras” bagi kedaulatan negara. Ia mempertanyakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah atas hilangnya kekayaan alam secara sistemik serta pembiaran konflik horizontal di tingkat akar rumput.

Banner Iklan Harianesia 300x600

GMNI menyoroti tajam ketegangan antara masyarakat Suku Mee di Kabupaten Deiyai dan Suku Kamoro di Kabupaten Mimika. Konflik perebutan batas wilayah administrasi ini telah meluas hingga menyebabkan jatuhnya korban luka dan pembakaran rumah warga.
“Negara dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) wajib hadir.

Baca Juga :  Forum Wartawan Jabar Istimewa Gelar Deklarasi Dukung Penuh Program dan Visi Misi KDM Mewujudkan Jabar Istimewa

Jangan biarkan rakyat berbenturan sendiri di bawah. Kami menuntut musyawarah terbuka yang difasilitasi negara di Provinsi Papua Tengah, bukan di Jakarta,” tegas perwakilan GMNI di Timika, Jumat (13/2/26).

GMNI mendesak agar Forkopimda kedua kabupaten segera dipertemukan dalam dialog transparan guna mencegah pertumpahan darah yang lebih luas.

“Papua adalah bagian dari Ibu Pertiwi, jangan dianaktirikan dengan membiarkan konflik ini berlarut-larut,” tambahnya.

Baca Juga :  Kunjungi Megawati, Sufmi Dasco Akui Peroleh Wejangan

Di sisi lain, publik digemparkan oleh data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang mengungkap aliran uang ke luar negeri sebesar Rp992 triliun dari aktivitas tambang emas ilegal periode 2023-2025.
Angka ini mencengangkan karena:

• Melebihi Defisit APBN: Nilai Rp992 triliun jauh melampaui defisit APBN 2025 yang “hanya” sebesar Rp695,1 triliun.

• Porsi Global: Temuan ini setara dengan 11% dari total nilai transaksi emas global tahun 2025.

• Distribusi Wilayah: Aliran dana haram ini terlacak berasal dari Sumatera hingga Papua.

Kristo menilai mustahil angka sebesar ini tidak melibatkan sistem pendukung yang rapi atau “bekingan” oknum aparat. Jaringan Tambang (JATAM) bahkan telah menyimpulkan bahwa ini bukan sekadar tambang rakyat biasa, melainkan kejahatan terorganisir dan sistemik.

Baca Juga :  Lewati Medan Sulit Kapolres Demak dan Dandim 0716/Demak Kawal Distribusi Logistik Pilkada

Menanggapi tekanan publik, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Wakil Menterinya menyatakan tengah melakukan konfirmasi mendalam dengan PPATK. Pemerintah berjanji akan menelusuri aliran dana yang kompleks tersebut guna memastikan hak negara yang hilang dapat ditarik kembali.
Namun, bagi GMNI, respon tersebut belum cukup.

“Jika negara gagal melindungi sumber daya alam dari perampokan terorganisir ini, maka narasi ‘Negara Gagal’ yang beredar di masyarakat akan menjadi kenyataan yang pahit,” tutup pernyataan tersebut.

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600