Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

DTPHP Dukung Pembukaan Perkebunan Kakao 200 Hektar di Hiripau dan Iwaka

×

DTPHP Dukung Pembukaan Perkebunan Kakao 200 Hektar di Hiripau dan Iwaka

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Mimika_HARIANESIA.COM_ Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, menyatakan mendukung penuh terhadap rencana pembukaan perkebunan kakao seluas 200 hektar di Kampung Hiripau, Distrik Mimika Timur dan Kampung Iwaka, Distrik Iwaka.

Pernyataan tersebut disampaikan Plt. Kepala DTPHP Mimika, Abdul Haris Sudharmono, usai menerima pemaparan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Yayasan Rabu Biru, Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI), dan Himpunan Pemuda Tani Mimika di ruang pertemuan Kantor DTPHP, Selasa 7 April 2026.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Haris menjelaskan, dalam presentasi tersebut turut hadir Kepala Kampung Hiripau, Bonefasius Pawe, bersama Kepala Suku Hiripau. Program pengembangan kakao ini direncanakan dibiayai oleh investor serta mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian.

“Berdasarkan pemaparan, komoditas kakao dipilih karena memiliki prospek pasar yang baik, dengan harga saat ini berkisar Rp70 hingga Rp90 ribu per kilogram,” ujarnya.

Ia menambahkan, tim telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta pengambilan sampel tanah guna menguji kelayakan lahan untuk pengembangan perkebunan kakao.
Dari total 200 hektar lahan yang direncanakan, sebanyak 150 hektar berada di wilayah Hiripau dan 50 hektar di wilayah Iwaka.

Baca Juga :  Ruby Santamoko.S.Ag. M. MPd, Kembali Pimpin Boen Tek Bio Periode 2025–2028!

Menurut Haris, DTPHP sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis menyambut baik program tersebut karena dinilai sebagai peluang strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menjelaskan,

DTPHP memiliki empat bidang utama, yakni Bidang Perkebunan, Bidang Tanaman Pangan, Bidang Hortikultura serta Bidang Sarana dan Prasarana Penyuluhan yang akan mendukung pelaksanaan program tersebut.

Kakao ini diperkirakan mulai menghasilkan dalam waktu tiga tahun. Selama masa tunggu, lahan akan dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura dan pangan lokal seperti keladi dan jagung.

Selain itu, juga akan dikembangkan usaha pendukung berupa budidaya ikan lele serta peternakan ayam pedaging dan petelur.

Haris menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti hasil pemaparan ini dengan mempresentasikan rencana tersebut ke Kementerian Pertanian di Jakarta, dengan melengkapi data kesiapan lahan, keamanan, serta Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) sebagai syarat utama.

“Pemerintah pusat tidak akan menindaklanjuti program jika calon lahan dan calon petani belum benar-benar siap dan lahan bebas dari masalah,” tegasnya.

Baca Juga :  Tokoh Masyarakat Palakahembi Menyambut Positif Kehadiran Tambak Udang Modeling Dengan Harapan Dapat Menyerap Tenaga Kerja Lokal

Meski dalam pemaparan disebutkan tidak ada kendala lahan, pihaknya tetap berencana melibatkan Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (LEMASKO) dalam peninjauan lokasi tahap berikut guna memastikan kesiapan wilayah secara menyeluruh.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Ketua Komisi IV DPRK Mimika, Elinus Balinol Mom, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Tani Indonesia (ATI) Kabupaten Mimika.

Haris menilai, program yang digagas HIPMI dan Yayasan Rabu Biru bersama APDESI dan ATI sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.

“Program ini muaranya untuk kepentingan masyarakat di kampung, bukan untuk pusat. Pemerintah siap berkolaborasi dengan semua pihak,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, hal ini sejalan dengan arahan Bupati Mimika, Johannes Rettob, bahwa pembangunan daerah harus melibatkan semua pihak agar berjalan optimal, karena pemerintah tidak bisa berjalan sendiri.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum HIPMI Papua Tengah, Junaldi Samuel, menjelaskan pertemuan dengan DTPHP bertujuan mendorong program Kementerian Pertanian terkait ketahanan pangan dan pengembangan komoditas unggulan, khususnya kakao.

Ia mengatakan, selain pengembangan kakao, program ini juga mencakup sektor peternakan ayam dan perikanan lele sebagai bagian dari konsep agroindustri terpadu.

Baca Juga :  Semangat Berbagi: GPIAI El Shadday dan PC API Gelar Aksi Pasar Murah di Pekayon Jaya

“Kotoran ayam dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman kakao sehingga dapat menekan biaya produksi,” jelasnya.

Junaldi menambahkan, tahap awal program difokuskan di wilayah Hiripau. Tanaman kakao diperkirakan mulai berbunga pada usia tiga tahun dan selanjutnya menghasilkan secara optimal.

Ia optimistis, jika program ini berjalan konsisten dan mendapat dukungan masyarakat, akan berdampak positif terhadap kesejahteraan petani serta peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ke depan, program ini juga akan menggandeng investor untuk pengembangan perkebunan kakao sekaligus mendorong lahirnya produk kakao dengan merek asal Mimika.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan kepala kampung, kepala suku, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat adat untuk penandatanganan kesepakatan kerja sama (MoU).

Aldi menyebutkan, ada sekitar delapan tahapan yang akan dilalui dalam pelaksanaan program ini. Ia juga telah bertemu dengan Wakil Ketua I LEMASKO, Marianus Maknaepeku, yang menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut.

Dwi

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600