Jakarta – Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, saat ini berada dalam tahanan Amerika Serikat setelah ditangkap oleh pasukan khusus AS dalam operasi militer pada 3 Januari 2026. Kronologi Penangkapan, Operasi militer berskala besar yang diberi
kode nama Operasi Absolute
Resolve dilakukan oleh pasukan elite (seperti Delta Force) di kediaman Maduro di Caracas
sekitar pukul 02.00 waktu
setempat.
Maduro dan istrinya, Cilia Ditangkap dan langsung diterbangkan keluar dari Venezuela.
Pakar geopolitik dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie, memberikan analisis kritis terkait invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang terjadi pada awal Januari 2026.
Connie juga memberikan peringatan serius bahwa konfrontasi masa depan bukan lagi soal kekuatan militer fisik, melainkan perang yuridiksi.
Hal tersebut diungkap dalam program DonCast Nusantara TV, Rabu (08/01/2026).
Lebih lanjut dikatakan Wilayah seperti Papua, Aceh, dan Kalimantan kini dalam sorotan karena statusnya sebagai paru-paru dunia, yang bisa saja diklaim secara sepihak oleh pemimpin dunia seperti Donald Trump ungkapnya.
Connie menyoroti kekuatan aliansi BRICS yang dinilai kian dominan dibandingkan Amerika Serikat, yang memicu AS untuk menyusun strategi baru menghadapi pergeseran kekuatan global tersebut.
Connie menilai invasi AS ke Venezuela sebagai bentuk “perang gaya baru” yang bukan merupakan insiden tunggal, melainkan gejala struktural dari pergeseran tatanan global.
Ia berpendapat bahwa agresi ini akan memaksa negara-negara di dunia untuk membentuk aliansi-aliansi baru guna menghadapi dominasi dan tindakan sepihak AS.
Connie menegaskan bahwa kekuatan blok BRICS saat ini sangat signifikan dibandingkan dengan AS, yang memicu Washington untuk mengambil langkah-langkah agresif guna mempertahankan pengaruhnya.
Terkait penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS pada 3 Januari 2026, Connie menduga adanya “kerja sama orang dalam” yang memudahkan operasi tersebut, Ia juga menyoroti langkah Rusia yang mengerahkan kapal selam untuk melindungi kapal tanker di Atlantik sebagai respons atas agresivitas AS terhadap aset-aset yang terkait dengan Venezuela.
Serangan AS yang dinamakan “Operation Absolute Resolve” diluncurkan oleh pemerintahan Trump dengan alasan memberantas “narkoterorisme”.
Namun, banyak analis, termasuk Connie, melihat akses terhadap cadangan minyak besar Venezuela sebagai motivasi utama di balik operasi militer tersebut.
Connie memberikan peringatan serius tentang perubahan sifat konfrontasi global. Menurutnya, konflik masa depan tidak lagi hanya tentang kekuatan militer fisik, tapi juga tentang perang yuridiksi. Hal ini membuat wilayah-wilayah seperti Papua, Aceh, dan Kalimantan menjadi sorotan karena statusnya sebagai “paru-paru dunia” yang bisa diklaim oleh pemimpin dunia seperti Donald Trump atas nama “Penyelamatan Lingkungan” global.
Peringatan Connie ini patut menjadi perhatian, terutama dalam konteks perubahan iklim dan upaya global untuk menyelamatkan lingkungan.
Apakah ini akan menjadi awal dari era baru konflik global?




















