Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Alarm Merah Nasionalisme: Pergeseran Nilai Ideologi Bangsa Kian Nyata di Kalangan Generasi Muda

×

Alarm Merah Nasionalisme: Pergeseran Nilai Ideologi Bangsa Kian Nyata di Kalangan Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Oleh Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman

HARIANESIA.COM_ Pemerintah dan TNI/Kepolisian Indonesia takut dan merasa tidak berdaya ketika empat kekuatan ini yang bersuara. Apa yang dimaksud dengan empat kekuatan, yaitu: (1) Buku; (2) Filem; (3) Media Massa; dan (4) Aksi Demo.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Empat alat ini bersuara tentang kekerasan dan kejahatan negara berdasarkan dengan data, fakta dan bukti-bukti yang sulit dibantah oleh para penguasa yang menindas rakyat.

Dengan tepat Letjen TNI (Purn.) Kiki Syahnarki mengatakan:

“…TNI maupun Pemerintah Indonesia sangat tidak berdaya menghadapi perang opini”.

(Sumber: Timor Timur The Untold History: Kompas: 2013, iv).

Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte, pernah berkata:

“Saya lebih takut pada pena daripada seribu bayonet musuh”.

Setelah buku saya berjudul Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua, ada tanggapan dari DPR RI dan pihak Kepolisian Indonesia.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyoroti kemunculan kelompok baru di Papua yang disebut sebagai Kelompok Kriminal Politik (KKP).

KKP menjadi bentuk ancaman serius yang berbeda dari kelompok kriminal bersenjata (KKB), karena menyusup melalui jalur propaganda ideologis dan digital, bukan kekerasan fisik.

“KKP menyebarkan pengaruh lewat narasi politik dan intelektual yang menyasar kesadaran generasi muda Papua. Ini jauh lebih berbahaya karena membentuk opini publik dan simpati terhadap gerakan separatis secara sistematis”.

ujar Dave dalam keterangan tertulis, Sabtu, 19 Juli 2025.
I

“Dibutuhkan kontra-propaganda yang kuat, penguatan literasi digital, pendidikan kebangsaan, serta pembangunan sosial-ekonomi yang inklusif. Pendekatan humanis dan kultural juga penting agar masyarakat Papua merasa dihargai sebagai bagian dari NKRI”.

Baca Juga :  Yeremia Gelar Pelatihan Tata Boga Bagi Kelompok Perempuan

“Penyelesaian masalah Papua tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah. Harus ada sinergi antara TNI-Polri, kementerian, tokoh adat, agama, hingga masyarakat sipil”. (Sumber: DetikNews, 19 Juli 2025).

Wakapolda Papua Brigjen Faizal Ramadhani dan juga Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, mengungkapkan:

“Kalau KKB menggunakan senjata, maka KKP menyebarkan ideologi. Ini menyasar kesadaran intelektual, termasuk orang-orang yang awalnya tidak simpati terhadap gerakan separatis. Jika tidak ditangani dengan cepat, KKP bisa menumbuhkan simpati luas di kalangan masyarakat, termasuk di luar Papua”. (Sumber: Metro TVNews, Detik ComNews, 18 Juli 2025).

Persoalan kekerasan dan kejahatan negara di Papua Barat sudah ditulis dengan berbagai judul buku dari banyak penulis dan sekarang ini kita menyaksikan Filem Pesta Babi: Kolonialisme Di Zaman Kita yang menggoncang sendi-sendi kekuatan Pemerintah dan TNI/Kepolisian Indonesia.

Akibat dari perilaku pemerintah dan aparat keamanan TNI terhadap penduduk orang asli Papua Barat yang sudah berlangsung selama 65 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang seperti yang digambarkan melalui banyak buku karya orang-orang hebat dan Film Pesta Babi, maka saat ini sedang terbangun kesadaran kolektif dan publik dimana saat ini sedang terjadi pergeseran nilai ideologi dan nasionalisme Indonesia secara signifikan dalam kehidupan rakyat Indonesia, terutama di kalangan generasi muda Indonesia.

Baca Juga :  Yulius Setiarto Anggota Komisi I DPR RI Soal Pengaturan Media Platform : Tidak Hanya Alasan Keadilan, Ini Menyangkut Hal Yang Lebih Besar Yakni Untuk Kepentingan Publik Dan Negara

Kedasaran kolektif/publik dan pergeseran nilai yang saya amati sebagai berikut:

Pertama, ideologi dan nasionalisme NKRI harga mati mulai bergeser kepada solidaritas atas penderitaan rakyat Indonesiam. Kedua, kecintaan rakyat terhadap TNI mulai bergeser kepada solidaritas kemanusiaan, keadilan dan persamaan derajat.

Ketiga, rakyat Indonesia semakin terbuka dan dengan tegas berdiri disamping rakyat dan bangsa Papua Barat yang sedang berjuang untuk pengakuan hak politik 1 Desember 1961 sebagai sebuah bangsa bangsa yang merdeka dan berdaulat. Pokok ini, mahasiswa asal Papua Barat yang kuliah di luar Papua yang selama ini bersuara mereka dipandang hanya dengan ekor mata, tapi sekarang rakyat Indonesia melihat persoalan konflik Papua Barat secara utuh dengan mata iman dan mata hati atas nama solidaritas kemanusiaan, kesetaraan, keadilan dan penderitaan bersama.

Keempat, generasi muda penduduk orang asli Papua Barat dari Sorong-Merauke sudah tidak mengenal ideologi dan nasionalisme Indonesia, bendera merah putih, lagu Indonesia raya, Pancasila dan UUD 1945. Sebaliknya, ideologi dan nasionalisme Papua Barat berakar dan bertumbuh subur dan itu terbukti dengan para siswa SMP dan SMU merayakan kelulusan mereka dengan baju seragamnya dicoret atau digambar bendera bintang kejora. Kedasaran sebuah ideologi dan nasionalisme bangsa Papua Barat lahir dan bertumbuh tanpa diajarkan, diindoktrinasi dan dipaksakan di ruang-ruang kelas.

Kelima, dalam keadaan darurat militer yang mengancam kemanusiaan dan ketidakadilan seperti situasi saat ini kalau pemerintah tidak segera memperbaikinya, maka kemungkinan besar bisa terjadi intervensi Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia untuk melepaskan Papua Barat dari pendudukan dan penjajahan penguasa kolonial firaun modern Indonesia. Peluang-peluang ini sangat terbuka karena selama ini penguasa Indonesia menutup pintu kunjungan Komisaris Tinggi HAM PBB, wartawan dan diplomat asing masuk Papua Barat. Komunitas Internasional akan bertanya mengapa Indonesia merang dan tidak mengijinkan Komisaris Tinggi HAM PBB, wartawan dan diplomat asing masuk Papua Barat? Indonesia bikin apa dan sembunyikan apa di Papua Barat?

Baca Juga :  Jumat Berkah, Yayasan Captain Dedy Susanto Ucapkan Terima Kasih kepada Para Donatur

Jadi, penguasa pemerintah dan TNI telah menciptakan distrust (ketidakpercayaan), disobedience (ketidaktaan/ketidakpatuhan), rejection (penolakan), resistance (perlawanan) dari rakyat dan bangsa Papua Barat yang didukung oleh rakyat Indonesia.

Dan lahirlah nilai-nilai public awarness (kesadaran publik), unity (persatuan), solidarity (solidaritas), equality of humanity (kesamaan derajat sesama manusia) dan compassion (cinta kasih) dari seluruh rakyat Indonesia untuk berdiri bersama-sama rakyat dan bangsa Papua Barat yang memperjuangkan demi keadilan dan perdamaian untuk semua umat manusia.

Akhirnya saya menyampaikan pikiran dan pendapat saya: Let My People Go. Biarkan bangsaku pegi untuk menatap masa depan yang lebih adil, beradab, manusiawi dan damai dengan berdiri melihat Bintang Kejora berkibar abadi di langit biru bumi cenderwasih sebagai sebuah yang pernah merdeka dan berdaulat 1 Desember 1961.

Terima kasih. Selamat membaca.

Ita Wakhu Purom, 20 Mei 2026

Dwi

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600