Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Ketika Sunda Kembali Berdiri Tegak di Tanahnya Sendiri

×

Ketika Sunda Kembali Berdiri Tegak di Tanahnya Sendiri

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Oleh: Jurnalis Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas

Bogor_HARIANESIA.COM_ Di tengah hiruk-pikuk politik modern yang lebih sering dipenuhi pencitraan, baliho kekuasaan, dan perlombaan angka pembangunan, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 menghadirkan sesuatu yang jarang terlihat hari ini: keberanian menghidupkan kembali identitas budaya di ruang publik.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Banyak orang mungkin melihat kirab budaya hanya sebagai parade tradisional. Sebagian menganggapnya sebatas romantisme masa lalu yang tidak lagi relevan dengan zaman digital. Namun sesungguhnya, peristiwa budaya seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar hiburan seremonial.

Sebab ketika sebuah bangsa mulai kehilangan budayanya, sebenarnya yang sedang hilang bukan hanya kesenian atau pakaian adatnya. Yang hilang adalah ingatan kolektif, karakter sosial, bahkan harga dirinya sendiri.

Jawa Barat selama bertahun-tahun tumbuh menjadi daerah maju dengan pembangunan yang terus bergerak cepat. Gedung berdiri, jalan diperluas, investasi datang silih berganti. Tetapi di balik itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah masyarakat Sunda masih benar-benar mengenali dirinya sendiri?

Hari ini anak-anak muda lebih hafal budaya populer luar dibanding sejarah tanah leluhurnya. Bahasa Sunda perlahan mulai kehilangan ruang di rumah-rumah. Kesenian tradisional hidup terseok-seok di tengah gempuran budaya instan media sosial. Bahkan tidak sedikit generasi muda yang mulai merasa asing memakai pakaian adatnya sendiri karena takut dianggap kuno.

Baca Juga :  Persiapkan Kontingen Kaltara ke Pesparawi Nasional XIV di Papua, Gubernur Zainal Paliwang Buka Resmi Parade Musik Gerejawi

Inilah ironi besar modernitas.

Kemajuan akhirnya sering diukur dari seberapa jauh kita meninggalkan tradisi, bukan bagaimana menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Karena itu, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 menjadi penting bukan karena kemeriahannya, melainkan karena pesan kebudayaan yang dibawanya.

Ketika Mahkota Binokasih Sanghyang Pake diarak melintasi berbagai daerah di Jawa Barat, sesungguhnya yang sedang dibawa bukan sekadar simbol kerajaan Sunda. Yang sedang dihidupkan adalah kesadaran bahwa masyarakat Sunda memiliki akar peradaban yang besar, luhur, dan tidak layak dipinggirkan oleh zaman.

Gubernur Jawa Barat atau KDM membaca ruang kosong itu dengan cukup cermat. Di saat banyak kepala daerah sibuk menjual citra modernitas, ia justru masuk ke ruang kebudayaan — ruang yang selama ini sering dianggap tidak “menguntungkan” secara politik.

Langkah itu tentu dapat dipuji, tetapi sekaligus perlu dikritisi secara sehat.

Budaya jangan sampai berhenti hanya menjadi panggung simbolik kekuasaan. Kebudayaan tidak boleh hidup hanya ketika kamera menyala dan keramaian berlangsung. Sebab problem terbesar kebudayaan hari ini bukan kurangnya festival, melainkan minimnya keberpihakan nyata terhadap ekosistem budayanya sendiri.

Baca Juga :  Revitalisasi Petilasan Kraton Kartasura: Menjaga Warisan Ibukota Mataram Islam Untuk Pemajuan Kebudayaan Bangsa

Kita masih melihat banyak seniman tradisional hidup dalam keterbatasan. Kampung adat bertahan tanpa perhatian serius. Bahasa daerah makin tersisih dalam pendidikan formal. Generasi muda diajarkan mengejar modernitas, tetapi jarang diajak memahami akar identitasnya.

Maka kirab budaya semestinya menjadi awal kesadaran, bukan akhir perayaan.

Pribahasa Sunda mengatakan, “Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman.” Artinya budaya harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar nilai leluhurnya. Di sinilah tantangan terbesar masyarakat Sunda hari ini: bagaimana menjadi modern tanpa tercerabut dari identitas sendiri.

Budaya Sunda sejatinya bukan hanya soal kesenian. Ia adalah sistem nilai. Ada ajaran silih asah, silih asih, silih asuh yang menanamkan penghormatan, kasih sayang, dan kebijaksanaan sosial. Ada filosofi someah hade ka semah yang mengajarkan keramahan dan penghormatan terhadap sesama. Ada pula falsafah cageur, bageur, bener, singer, pinter yang membentuk karakter manusia Sunda sejak dahulu.

Tetapi pertanyaannya: apakah nilai-nilai itu masih benar-benar hidup dalam kehidupan sosial hari ini?

Baca Juga :  Dari Meja Halal Bihalal ke Alarm Demokrasi: Benny Ramdhani Bongkar ‘Anomali Negara’ di Tjikini

Ataukah budaya Sunda kini hanya tersisa di panggung pertunjukan, sementara dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat justru semakin individualis, keras, dan kehilangan ruh kebersamaan?

Kirab budaya ini seharusnya menjadi alarm sosial bahwa kebudayaan bukan benda mati. Ia harus hidup dalam pendidikan, kebijakan publik, ruang keluarga, hingga perilaku para pemimpinnya sendiri.

Sebab sejarah telah membuktikan, bangsa yang kehilangan budaya lambat laun akan kehilangan arah. Mereka mungkin maju secara ekonomi, tetapi rapuh secara identitas.

Dan mungkin itu sebabnya ribuan masyarakat turun ke jalan menyambut kirab budaya ini dengan rasa haru yang sulit dijelaskan. Karena di tengah dunia yang berubah terlalu cepat, masyarakat sebenarnya sedang rindu pada akar yang membuat mereka merasa memiliki rumah bernama identitas.

Tatar Sunda hari ini sedang mengingatkan kita semua bahwa budaya bukan penghalang kemajuan. Budaya justru fondasi agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.

Karena sejatinya, peradaban yang besar bukanlah peradaban yang paling modern, melainkan peradaban yang mampu menjaga kehormatannya sendiri di tengah perubahan zaman.

Jurnalis , Penggiat Budaya, Aktivis 98

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600