Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Natal, Budaya, dan Rumah Bernama Indonesia: Pelajaran dari Dayak di Tanah Perantauan

×

Natal, Budaya, dan Rumah Bernama Indonesia: Pelajaran dari Dayak di Tanah Perantauan

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Bogor – Di tengah Indonesia yang kian riuh oleh polarisasi identitas, perebutan simbol, dan tarik-menarik kepentingan kekuasaan, iman dan budaya kerap ditempatkan pada posisi yang keliru. Keduanya sering dipertentangkan, diperalat, bahkan direduksi menjadi sekadar atribut formal. Padahal, jauh sebelum republik ini berdiri, iman dan budaya telah hidup berdampingan—menjaga keluarga, merawat persaudaraan, dan membentuk manusia Indonesia yang beradab.

Alkitab mengingatkan bahwa iman sejati tidak pernah lahir untuk memecah, melainkan untuk memulihkan relasi:

Banner Iklan Harianesia 300x600

“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.”
(Efesus 4:3)

Perayaan Natal Dayak yang digelar pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Cileungsi, Kabupaten Bogor, tampil sebagai lebih dari sekadar agenda keagamaan komunitas perantau. Ia adalah peristiwa iman sekaligus peristiwa budaya—sebuah pesan sunyi namun tegas tentang bagaimana keberagaman seharusnya dirawat di negeri ini.

Natal di tanah perantauan menjadi cermin Indonesia itu sendiri: beragam, dinamis, dan terus diuji. Dalam ruang itu, iman dan budaya tidak berdiri sebagai lawan, melainkan sebagai sahabat yang saling menguatkan. Sebab iman Kristen sendiri lahir dalam konteks budaya dan hadir untuk menyapa manusia di dalam realitas hidupnya:

Baca Juga :  Prof.Connie Rahakundini: Trump Tidak Anti-Institusi, Tetapi Anti-Pembatasan

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:14)

Budaya Betawi mengajarkan keterbukaan dan silaturahmi—rumah selalu menyediakan ruang bagi siapa pun. Budaya Sunda menanamkan someah hade ka semah, keramahan yang lahir dari ketulusan. Budaya Jawa merawat tepa selira dan harmoni agar kehidupan tidak kehilangan keseimbangan. Sementara budaya Dayak mengajarkan kesetiaan pada keluarga, komunitas, dan nilai leluhur sebagai satu kesatuan hidup.

Semua nilai tersebut bertemu pada satu simpul yang sama: keluarga sebagai pusat peradaban. Alkitab menegaskan bahwa keluarga adalah ruang pertama tempat iman dan nilai kehidupan ditanamkan:

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.”
(Amsal 22:6)

Ketika keluarga dijaga, budaya tidak mudah runtuh. Ketika budaya dirawat, bangsa tidak mudah pecah.

Natal Dayak di perantauan juga mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh mencabut akar. Kota-kota besar seperti Bogor, Jakarta, atau Surabaya adalah ruang perjumpaan berbagai suku dan identitas. Namun kota tidak boleh berubah menjadi ruang penghapusan jati diri. Justru di sanalah iman dan budaya diuji: apakah ia mampu hidup tanpa menjadi eksklusif, dan apakah ia mampu berkembang tanpa kehilangan toleransi.

Baca Juga :  Papa Rico Berdemo Berjuang Pahit Untuk Negara , Pingsan di Bawa RSUD Tanah Abang

Yesus sendiri menegaskan bahwa iman sejati selalu terwujud dalam relasi kasih yang nyata:

“Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
(Yohanes 13:35)

Perayaan Natal Dayak ini menjadi pengingat bahwa iman yang sehat tidak pernah menutup diri dari budaya, dan budaya yang hidup tidak pernah kehilangan nilai spiritual. Ketika iman tercerabut dari budaya, ia mudah menjadi kaku dan eksklusif. Sebaliknya, ketika budaya kehilangan nilai iman dan moral, ia mudah kehilangan arah.

Indonesia hari ini menghadapi tantangan serius: polarisasi sosial, politisasi identitas, serta lunturnya nilai kekeluargaan. Dalam konteks itu, perayaan lintas budaya dan iman—baik Natal, Idulfitri, Nyepi, Waisak, maupun ritual adat—seharusnya dipahami sebagai aset kebangsaan, bukan sekadar agenda seremonial komunitas tertentu.

Baca Juga :  Ini Tuntutan FWJ Indonesia Aksi Demo Di Puspem Kota Tangerang

Alkitab mengingatkan bahwa keberagaman adalah bagian dari kehendak Allah sendiri:

“Sesudah itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa.”
(Wahyu 7:9)

Dayak di perantauan yang merayakan Natal dengan damai, Betawi yang menerima dengan terbuka, Sunda yang menyambut dengan keramahan, Jawa yang menjaga harmoni—itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Bukan Indonesia yang gaduh di ruang digital, melainkan Indonesia yang hidup di ruang-ruang perjumpaan nyata.

Jika ada satu pelajaran penting dari perayaan Natal Dayak pada 24 Januari 2026 itu, maka jelas:
Indonesia akan tetap utuh selama iman tidak diperalat, budaya tidak dipertentangkan, dan keluarga tetap menjadi pusat kehidupan.

Bangsa ini tidak hanya dibangun oleh konstitusi dan kekuasaan, tetapi oleh iman dan budaya yang saling menjaga.

Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia, Penggiat Budaya, dan Aktivis 98

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600