Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Politik

Catur Sagotra 2025: Empat Dinasti Mataram Perkuat Silaturahmi Budaya

×

Catur Sagotra 2025: Empat Dinasti Mataram Perkuat Silaturahmi Budaya

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Yogyakarta_HARIANESIA.COM_Empat Dinasti Mataram Islam kembali dipersatukan dalam Catur Sagotra 2025, sebuah agenda budaya tahunan yang menghadirkan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Karaton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman dalam satu forum kebudayaan. Tradisi lintas dinasti ini menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus menjaga kesinambungan budaya adiluhung yang diwariskan para leluhur Mataram Islam. Jum’at (28/11/2025) diBangsal Kepatihan Kompleks Kantor Gubernur DIY.

Tahun ini, kegiatan Catur Sagotra mengusung tema “Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”, sebuah gagasan yang menggambarkan penyatuan kecerdasan nalar, kekuatan raga, dan kejernihan batin sebagai bagian dari cipta, rasa, dan karsa yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia. Tema tersebut memberi warna pada seluruh rangkaian kegiatan yang disajikan masing-masing dinasti, sekaligus menegaskan nilai filosofis yang membingkai kehidupan masyarakat Jawa sejak berabad-abad lalu.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Sebagai salah satu pusat kebudayaan Mataram Islam, Karaton Kasunanan Surakarta kembali menjadi perhatian melalui penampilan Beksan Wiryanaranata, sebuah karya tari klasik yang mengangkat lelampahan dalem SISKS Pakoe Boewono VI. Dengan ragam gerak yang lembut, halus, namun penuh ketegasan, beksan ini menghadirkan gambaran perjalanan spiritual dan kepemimpinan sang raja yang sarat makna historis.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Jangan Terjebak Hoax, Cermati Fakta dengan Bijak

K.R.T. Tri Harjanto Budayadipura, Pangarsa Beksan Karaton Surakarta, menegaskan bahwa keberlangsungan Catur Sagotra adalah bukti kuat bahwa budaya Jawa peninggalan dinasti Mataram Islam masih hidup dan lestari.

“Acara Catur Sagatra menjadi penanda bahwa pelestarian budaya Jawa peninggalan leluhur, terutama dari Dinasti Mataram Islam, masih berlangsung hingga saat ini. Beksan seperti Wiryanaranata menjadi pengingat bahwa nilai luhur itu harus terus dijaga,” ujarnya.

Beksan Wiryanaranata diperagakan oleh sembilan penari inti, terdiri dari empat penari putra dan lima penari putri.

Empat penari putra tersebut melambangkan Catur Murti, empat unsur pembentuk kehidupan, Tanah, simbol stabilitas; Air, lambang kelembutan; Api, kekuatan energi dan semangat; dan Angin, simbol transformasi dan keluwesan.

Baca Juga :  Pidato Lengkap Guntur di Gedung MPR: Singgung Tuduhan Keji dan Rehabilitasi Nama Bung Karno

Konsep ini selaras dengan tema “Kalyana”, yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara pikiran, tindakan fisik, dan kejernihan jiwa.

Sebagai pemimpin rombongan Kasunanan Surakarta dalam Catur Sagotra 2025, KPH Adipati Panembahan Sosronegoro menegaskan makna penting kegiatan ini bagi eksistensi kebudayaan Mataram di tengah arus perubahan zaman.

“Catur Sagatra bukan sekadar pertemuan empat dinasti. Ini adalah wahana merawat jati diri, menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur, dan memperkuat rasa kekeluargaan di antara sentana dalem lintas istana. Selama tradisi ini dijalankan, selama itu pula kebudayaan Mataram akan tetap hidup,” ungkapnya.

Beliau juga menekankan bahwa keterlibatan generasi muda dalam beksan dan seni tradisi menjadi kunci keberlanjutan budaya.

“Kami bersyukur bahwa para penari muda Kasunanan Surakarta mampu menjiwai Wiryanaranata. Ini tanda bahwa warisan leluhur diteruskan oleh generasi yang tepat,” tambahnya.

Sebagai salah satu tokoh perempuan adat di Kasunanan Surakarta, GKR Panembahan Timoer menyampaikan harapan agar Catur Sagotra terus berlangsung dan tidak terputus oleh perkembangan zaman.

Baca Juga :  Basarah : Kunjungan Megawati Bukti Eratnya Hubungan RI dengan Rusia-Uzbekistan

“Catur Sagatra harus terus ada sebagai upaya menjaga dan melestarikan kebudayaan peninggalan leluhur Dinasti Mataram. Ini tonggak penting yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” tuturnya.

Salah satu penari dari Kasunanan Surakarta, Nyimas Yohana Rosinta Christmas, mengungkapkan rasa bangganya dapat mengenakan busana adat dan mempersembahkan tari klasik dalam forum budaya lintas dinasti ini.

“Senang sekali bisa menyajikan Beksan Wiryanaranata dalam Catur Sagatra tahun ini. Ini pengalaman berharga dan sebuah kehormatan,” ucapnya.

Dengan penyatuan olah pikir, olah raga, dan olah jiwa, Catur Sagotra 2025 tidak hanya menjadi agenda budaya semata, tetapi juga medium perenungan untuk memahami bahwa warisan leluhur Mataram adalah kekayaan yang hidup, berkembang, dan harus terus dijaga oleh generasi penerusnya. Tradisi ini menjadi jembatan yang menghubungkan kekuatan sejarah, estetika seni, dan nilai spiritual dalam satu ruang kebudayaan yang utuh.

Mariyo

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600